Pentingnya Sifat Malu


RASA MALU adalah salah satu dari cabang – cabang keimanan. Akhlak yang tinggi ini apabila ditanamkan ke dalam jiwa kemudian terus berakar ke dalamnya, maka akan bertambah bersih keindahannya. Jika rasa malu ini hilang dari seseorang, maka hilanglah harga dirinya. Hal ini dikarenakan rasa malu merupakan akhlak yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan keji.

Rasa malu merupakan sesuatu yang paling utama yang harus diajarkan kepada anak perempuan sejak mulai dini ( kecil ). Khususnya dalam masalah berinteraksi dengan laki – laki yang bukan mahramnya dan supaya tidak membiasakan dirinya untuk mengobrol dengan mereka ( laki – laki yang bukan mahramnya) seperti tamu ayahnya, atau tamu saudaranya, pemilik toko dan sopir dengan pembicaraan yang melebihi batas kebutuhan dan kepentingan.

Sekarang kita lihat dalam pergaulan sehari – hari atau dalam masyarakat umum sebagian orang meremehkan masalah ini, yang menjadikan anak perempuan tidak menghiraukan lagi sikap suka bertengkar, banyak tertawa dan bercanda bersama lawan jenisnya. Tidak hanya lain yang membuat dia begini dikarenakan sejak kecil ia telah dibiarkan dan tidak diarahkan dengan arahan yang baik. Sehingga akhirnya perbuatan seperti ini dianggap boleh baginya, dan ini lah bagian dari pintu – pintu fitrah. Tetapi jika sebalik demikian dengan tertanamnya benih rasa malu padanya dia akan menjadi anak yang berakhlak baik serta menjadi tabiat yang melekat padanya.

Wahai saudariku, wanita pendidik yang mulia, inilah contoh dari seorang anak perempuan yang berakhlak dengan akhlak yang utama ( rasa malu ). Seorang anak perempuan membiasakan diri untuk tidak bercampur dengan laki – laki yang bukan mahramnya, jika pergi kepasar di dampingin mahramnya, baik ibunya ataupun saudaranya. Ia hanya menunjuk saja apa yang ia inginkan dan berbisik dengan suara halus kepada ibunya tentang apa yang ia maksudkan sehingga pemilik toko tidak bisa mendengar suaranya. Ibunyalah yang menjadi perantara bagi anak perempuannya dalam hal belanja.

Ini adalah contoh dari seorang anak perempuan yang memiliki rasa malu dan menjaga diri. Adapun sebagian anak perempuan kaum Muslimin pada Zaman sekarang, keadaanya sangat menyedihkan baik di pasar, perkantoran, bahkan ditengah – tengah keramaian. Khususnya pada musim – musim tertentu dan awal tahun ajaran baru.

Wahai saudariku, kita sangat membutuhkan pengkajian ulang mengenai kondisi dan gaya hidup putri – putri kita, serta bagaimana seharusnya berinteraksi dengan mereka. Saya memohon kepada Allah agar membuat mata kita tenang dengan keshalihan mereka. Karena mereka adalah para calon ibu di masa mendatang dan para calon pendidik untuk generasi – generasi berikutnya.

Saudariku yang mulia, Nabi Muhammad saw adalah seorang yang sangat pemalu, sangking pemalunya, beliau dikatakan sebagai orang yang lebih pemalu dari seorang gadis yang dipingit. Beliau menjadi gambaran sikap malu yang berlebihan disamakan dengan sifat malu wanita yang belum menikah alias perawan.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al – Khaduri RA, ia berkata;

كَنَارَسُوْلُ اللهِ صَلَ الله عَلَيْه وَسَلام أَشَدَّ حَيَاءٍ مِنَ الْعَذْرَاءِ فِيْ خِدْرِهَا فَإِذَا رَأَى شَيْئَا يُكْرِهُهُ عَرَفْنَاهُ فِيْ وَجْهِهِ

“ Rasulullah saw. Lebih pemalu daripada seorang gadis yang dipingit. Maka jika beliau melihat sesuatu yang di bencinya, kami dapat mengetahuinya dari raut wajah beliau.” ( Muttafaq ‘Alaih ).

Syaikh Muhammad Bin Utsaimin RA berkata, “ Al – Adzra adalah seorang wanita yang belum menikah ( perawan ). Ia adalah perempuan yang sangat pemalu dikarenakan belum menikah dan tidak pernah bergaul dengan laki – laki. Karenanya, anda akan mendapatinya sebagai seorang pemalu dalam pingitannya. Adapun Rasulullah saw adalah lbih pemalu daripadanya”.

Lalu, dimanakah rasa malu seorang gadis di Zaman kita sekarang dimana yang sifat malunya tersebut menjadi gambaran pada akhlak Rasulullah saw. Hal demikian sangat langka terjadi kecuali pada orang yang dirahmati Allah SWT semata.

wasalam.. semoga artikel ini bermamfaat buat sobat - sobit sekalian... aminn

Sumber: An-Nawawi, rayadush shalihin yang dikuatkan oleh imam al-Albani hal 279
                Ibnu Usaimin Syarhu Riyadushalihin

0 komentar:

Post a Comment